Si Kecil Jadi Laki-Laki Atau Perempuan Bag4

Anak sudah lebih memahami hubungan antarorang, diri sendiri, hakhak pribadi maupun orang lain. Kesadaran anak balita mengenai teman sebaya dan kebutuhan batin untuk membentuk hubungan dengan mereka menjdi hal yang amat penting dalam kehidupannya yang masih belia. Dia ingin disukai dan punya teman bermain.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Pada umumnya di usia 2,5 sampai 5 tahun, anak tampil sebagai sosok yang menyenangkan, ramah, senang bercerita dan senang menjadi pusat perhatian. Di sisi lain, situasi sosial sekarang sering kali kurang menantang, sehingga anak cenderung memperoleh rasa percaya diri baru ketika ia berbaur dengan orang lain. Banyak contoh memperlihatkan, keadaan ini berpangkal dari pengalaman anak berbaur dengan anakanak atau orang dewasa lain, baik di kelompok bermain, di jalan, sewaktu berbelanja dengan orangtua atau di pertemuan keluarga.

Perasaannya mengenai ‘kepriaan’ dan ‘kewanitaan’ atau pemahaman mengenai apa yang membuat anak lakilaki menjadi laki-laki dan anak perempuan menjadi perempuan terbentuk melalui proses identifi kasi dengan orang-orang terdekat di rumah. Hasilnya terlihat dari pergeseran ke arah pertemanan dengan sejenis berikut pilihan mainan dan permainannya. Artinya, anak laki-laki dan perempuan mulai mengekspresikan pilihan berbeda ketika identitas jenis kelamin berkembang dan seharusnya mereka sudah bisa membentuk gagasan yang jelas mengenai tingkah laku yang wajar untuk anak laki-laki dan anak perempuan.

Jadi, stereotip jenis kelamin sudah bisa menampakkan bentuknya di rentang usia ini. Nah berdasarkan penjelasan tadi, sekali lagi saya katakan, “Periode kritis atau sensitif adalah jendela kesempatan dalam waktu, yaitu periode paling reseptif bagi anak untuk belajar dengan sedikit usaha.” Bisa dikatakan, inilah periode pembangunan atau pertumbuhan yang dipengaruhi oleh pengalaman dan perubahan fi siologis dari waktu ke waktu. Pertumbuhan ini sendiri memiliki dua dimensi: normatif (mengikuti pola yang ditentukan) dan dinamis (tergantung pada waktu dan pengalaman).

Alhasil, kisah Mika hanyalah satu dari beribu cerita serupa. Apakah seorang anak nantinya memilih menjadi seorang heteroseksual atau LGBT, pada dasarnya semua itu kembali pada bagaimana orangtua membentuk dan menaruh fondasi jiwa secara psikologis dan rohani kepada anak saat dia memasuki ‘the golden age’. Ingat, pada dasarnya setiap anak terlahir sebagai kertas polos, kitalah orangtuanya yang menulis dengan berbagai cerita.

Sumber : https://pascal-edu.com/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *