Duh, Ingin Buang Air Liur Terus! Bag2

Atau, sedikitnya kumurkumur dengan air putih. Boleh juga menggunakan obat kumur yang aman untuk mamil, salah satunya obat kumur dari bahan-bahan herbal. Kondisi mulut yang kurang bersih adalah salah satu penyebab gejala rasa mual yang bisa memicu produksi air liur berlebih. Hentikan kebiasaan merokok. Merokok dapat meningkatkan kadar air liur dalam mulut, selain juga akan membahayakan kesehatan janin dalam kandungan Mama.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Jadi, setop merokok, ya, Ma! Banyak minum. Minumlah sedikitnya 10 gelas sehari. Air minum menjadikan wilayah pada rongga mulut menjadi tidak kering. Pasalnya, kondisi kering pada rongga mulut bisa merangsang munculnya air liur. Selain itu, minum bisa juga mengatasi terjadinya dehidrasi karena terlalu sering meludah. Bila perlu, variasikan bersama jenis minuman lain, seperti jus buah. Mengunyah permen karet.

Mengunyah permen karet rasa mint tanpa gula bisa mengatasi rasa mual dan mencegah produksi air liur berlebih. Gula yang berlebih sangat tidak baik, selain juga bisa menyebabkan mual. Hindari permen yang memiliki rasa asam karena malah merangsang air liur. Mengisap jeruk lemon. Jeruk memiliki aroma segar sehingga bisa mengurangi rasa mual yang menjadi pemicu air liur berlebih.

Atau, gunakan minyak esensial beraroma jeruk, teteskan pada tisu atau saputangan dan hirup aromanya. Mengisap keping es batu atau berkumur pakai air dingin. Rasa dingin bisa mengurangi produksi air liur pada mulut, selain juga bisa memberikan rasa nyaman pada rongga mulut. Semoga dengan cara-cara tersebut, air liur tak lagi mengganggu, ya, Ma.

Mamil Kelewat Gemuk, Anak Berisiko Obesitas

Memiliki BB berlebihan atau obesitas sebelum kehamilan ataupun mengalami kenaikan BB selama kehamilan dapat membuat janin lebih berisiko mengalami obesitas setelah lahir. “Risiko obesitas tidak hanya mengintai anak semasa masih kecil, melainkan hingga mereka dewasa. Ini juga membuat mereka lebih berisiko terhadap penyakit kronis lain nya di masa dewasa,” kata Elizabeth Widen, peneliti dari Columbia University.

Sumber : https://eduvita.org/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *