Ponsel 4G Murah Sudah Muncul

BERBEDA dengan masa lalu, pemerintah kali ini akan tegas dalam masalah importasi ponsel, sehingga pabrikan yang belum siap hingga akhir tahun depan, pemerintah akan mencabut izin impornya. Walaupun ada keberatan dari sebagian importir akan tingginya kewajiban tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) ponsel produksi Indonesia, beberapa merek yang telah membuka pabrik di Indonesia sudah membuktikan bahwa syarat itu dapat dipenuhi. Sementara dari kalangan operator muncul suara agar kebijakan pemerintah soal TKDN tidak mengganggu ekosistem yang sudah terbangun. Pembatasan TKDN memang baik untuk mendukung iklim industri ponsel di Indonesia, namun jangan sampai kebijakan tadi justru menghalangi masyarakat mendapatkan ponsel 4G yang mereka inginkan, sementara investasi mahal untuk jaringan sudah dilakukan. Sulit bagi vendor ponsel 4G melakukan pabrikasi jika ekosistem yang mendukung, yaitu para pemasok komponen yang belum siap. Kalangan operator khawatir bahwa batas waktu hingga 31 Desember 2016 masih belum cukup bagi vendor untuk memenuhi persyaratan, dengan akibat ketersediaan ponsel 4G di pasar akan langka. Kekhawatiran ini sangat dipahami Menkominfo Rudiantara, yang merasa bahwa pemaksaan pemenuhan TKDN akan mengganggu industri telekomunikasi di Tanah Air, yang ujung­ujungnya juga merugikan konsumen.

Analoginya, “Kita tidak boleh memaksa pesawat mendarat kalau belum ada landasan pacu.” Namun katanya, importir dapat menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan ahli­ahli lokal, sehingga batas TKDN tercapai. Kata produsen, membuat ponsel 4G banyak bedanya dibanding ponsel generasi ketiga (3G) apalagi dengan ponsel 2G. Berbagai teknologi pembawa (carrier) akan memengaruhi ponsel yang dibuat, yang juga akan berimbas kepada harga. Jika hanya mengejar harga murah pabrik bisa saja memroduksi ponsel 4GLTE dengan harga di kisaran Rp2 juta, namun dengan spesifikasi rendah plus ketidakmampuan digunakan di beberapa pita sekaligus, seperti yang sudah ditawarkan di pasar saat ini. Padahal di jaringan berteknologi CA (carrier aggregation) pelanggan akan mendapat kecepatan unduh yang lebih tinggi, jika ponselnya ditambahi perangkat lunak agregasi tiga pita, 900 MHz, 1800 MHz dan 2,1 GHz. Ketika ketiga pita frekuensi tadi dibebaskan untuk 4G LTE, ponsel 4G murah tadi tidak bisa menikmati kecepatan unduh kecuali sekadar 35 mbps (mega byte per detik) seperti yang terjadi sekarang sebelum rentang frekuensi 1800 MHz dan 2,1 GHz ditetapkan sebagai teknologi terbuka untuk LTE. Bandingkan dengan ponsel CA 4G tiga pita yang mampu mengunduh sampai 300 mbps, seperti misalnya Samsung Galaxy Note 4 yang harganya sekitar 700 dollar AS. Harga yang sulit dijangkau ratarata pengguna ponsel kita, apalagi bagi mereka yang sekarang masih berkutat di 2G. Namun bagaimanapun, pasar yang kelak akan menentukan. Karena bagi kalangan masyarakat yang masih sangat mempertimbangkan harga, terkadang – pada awal mula – kecepatan 35 mbps pun sudah memadai.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *