Taman “Bertema” Pengisi Kota Bunga dilengkapi dengan Genset Silent

Sebuah taman kota dilengkapi dengan genset yang dapat dibeli dengan harga diskon melalui Distribtor Jual genset Jakarta yang terpercaya. “Bandung merupakan salah satu kota yang dirancang dan ditata sempurna,” demikian pernyataan Thomas Karsten, perancang tata kota ternama di sekitar tahun 1930an. Harumnya nama Bandung— ibukota Provinsi Jawa Barat— memang telah menggema sejak zaman penjajahan Belanda. Beragam julukan, seperti kota kembang, Parijs van Java dan De Bloem der Indische Bergsteden (Bunganya Kota Pegunungan di Hindia) melekat erat dengan kota yang dikelilingi bukit tersebut.

Tak heran. Sejak pemerintahan Herman Willems Daendels, Gubernur Hindia Belanda di tahun 1806 – 1811, Bandung memang didesain sebagai area pemukiman. Bahkan pada tahun 1920an, tata ruang Bandung dibangun dengan rapi nan indah. Didukung oleh suhu sejuk, seisi kota dipenuhi taman, bunga, dan pepohonan Bandung, menyerupai kota-kota di Benua Eropa. Lambat laun, dunia bisnis—yang semula dipegang kuat oleh Jakarta— mulai beralih merambah Bandung. Salah satu hal yang memicu pesatnya perkembangan bisnis dan ekonomi, adalah diresmikannya jalan tol Cipularang (Cikampek – Purwakarta – Padalarang) pada tahun 2005.

Dengan menempuh 125km saja—kira-kira sekitar 2 jam perjalanan—Bandung dapat dikunjungi warga ibukota dengan mudah. Beragam sarana transportasi umum pun sudah merebak di manamana, seperti mobil shuttle travel dan bis antar kota. Perlahan, wajah Bandung menjadi berbeda. Berubah 180O. Imej Bandung sebagai kota sejuk yang dipenuhi pepohonan, beralih jadi kota tujuan wisata belanja. Ruang-ruang terbuka hijau mulai dipangkas, digantikan oleh beragam ruang publik komersil.

Meskipun terdapat 600 taman yang tersebar di seluruh pelosok kota, hanya segelintir taman yang diperlakukan dengan semestinya. Mulai September 2013 lalu, Bandung mulai berganti kepemimpinan. Ridwan Kamil, arsitek sekaligus “penggerak” BCCF (Bandung Creative City Forum), menjadi walikota baru yang mengemban tugas memimpin kota kembang ini. Sejak itu pula, rencana rekonstruksi taman-taman kota tak hanya menjadi wacana, mengingat beberapa tahun ini, motto Bandung—Bersih, Hijau, Berbunga (BERHIBER)—mulai dianggap angin lalu.

Sebagai seorang arsitek, Ridwan Kamil menerapkan konsep taman tematik, berbeda dengan taman kota pada umumnya. Terbukti, taman-taman tematik ini dapat menjadi ruang publik gratis. Ruang nongkrong tanpa pungutan biaya. Rencananya, sebanyak 30 taman tematik akan diluncurkan. Namun, sejak tahun 2013, terdapat beberapa taman tematik yang mulai diresmikan, dan dipadati oleh pengunjung, seperti Taman Jomblo, Taman Foto, Taman Pustaka Bunga dan Taman Musik. Ingin berkunjung ke Kota Bandung di akhir pekan ini? Jangan lupa, sempatkan diri Anda untuk mendatangi taman-taman tematik berikut. Biarkan Anda berada di dalamnya, patuhi peraturannya, dan nikmati ruang-ruang publik “gratis” ini sebaik-baiknya. Selamat berjalanjalan!

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *